Tuesday, June 9, 2020

SUKARNO DAN REVOLUSI

 
Sukarno di Simpang Jalan Revolusi
Apakah Sukarno menjadi seorang Trotskyis ketika mesti memilih pada jalan mana revolusi harus ditempuh?
OLEH: MAX LANE
Re Post: Hendra Himawan, S.Pd.

Pada 1958 Presiden Sukarno pernah menyampaikan beberapa kuliah tentang Pancasila di Istana Negara. Antara lain ada kuliah tentang masing-masing sila, termasuk peri-kemanusiaan. Di dalam kuliah tersebut Sukarno sempat menguraikan perbandingannya antara Joseph Stalin dan Leon Trotsky, dua pemimpin revolusi Rusia. Dalam membaca dan merenungkan komentar Sukarno ini tentu saja kita harus catat waktu dan konteks yang berlaku pada saat itu. Pidato Sukarno pada 1958 itu dilakukan dua tahun setelah Nikita Kruschev, sebagai Sekretaris Pertama Partai Komunis Uni Soviet, membongkar kejahatan-kejahatan politik Stalin melalui pidato di kongres partainya. Pada waktu itu Kruschev mengatakan:
"We have to consider seriously and analyze correctly [the crimes of the Stalin era] in order that we may preclude any possibility of a repetition in any form whatever of what took place during the life of Stalin, who absolutely did not tolerate collegiality in leadership and in work, and who practiced brutal violence, not only toward everything which opposed him, but also toward that which seemed to his capricious and despotic character, contrary to his concepts."

Sejak pidatonya itu, sedikit demi sedikit mulai banyak data keluar tentang, meminjam istilah Sukarno: “pembersihan”, “penangkapan” dan “pembunuhan” yang terjadi pada zaman Stalin berkuasa. Fakta-fakta itu sebenarnya sudah mulai beredar dan diketahui oleh Sukarno pada tahun 1958. Kalau kita lihat komentar Sukarno, pengetahuan dan sikapnya terhadap hal yang pernah diungkapkan oleh Kruschev itu memang tidak terlalu mengejutkan.

Apalagi di saat yang sama, secara tertutup, mulai ada perbedaan retorika politik antara Beijing dan Moskow. Perpecahan itu baru muncul terbuka sepenuhnya tahun 1961. Tetapi gejalanya sudah mulai kelihatan pada tahun 1958 bahwa Beijing kurang jodoh dengan kritikan tajam yang dilontarkan Kruschev kepada Stalin. Bahkan pada  1956, Mao Tse Tung sudah menulis: “We’ve said before that with regard to Stalin, we should [see him as having been] three parts [bad] and seven parts [good].” Ini merupakan sikap yang jauh lebih lunak daripada yang dianut dan yang diungkapkan oleh Kruschev.

Sikap Sukarno dalam hal kejahatan yang dilakukan Stalin lebih cenderung membenarkan apa yang dikemukakan oleh Kruschev. Dalam hal ini, meski sikapnya jelas berbeda dari sikap Mao dan Beijing, sikap Soekarno tidak akan mengejutkan untuk mayoritas dunia kiri pada waktu itu.
Lain soal kalau kita membahas Trotsky. Pada tahun 1958, Trotsky masih sasaran kutukan dari mayoritas kaum kiri, baik yang berkiblat ke Moskow maupun Beijing. Trotsky, di mata organisasi-organisasi komunis adalah seorang pengkhianat atau bahkan agen CIA. Trotsky adalah figur yang digadang-gadang Lenin untuk menggantikannya, tetapi kalah bertarung melawan Stalin. Kemudian dia muncul sebagai pemimpin “Left Opposition” di Partai Komunis Uni Soviet. Sesudah beberapa tahun bertarung, Trotsky diasingkan ke Turki tahun 1929. Pada tahun 1935 dia pindah ke Norwegia, kemudian Meksiko. Pada tahun 1938 anaknya dibunuh oleh agen Stalin di Paris dan kemudian pada 1940 dia sendiri dibunuh oleh pelaku yang sama.

Kalau kita membaca uraian Sukarno adalah jelas bahwa dia sama sekali tidak terima pengutukan terhadap Trotsky, sesuatu yang lain daripada yang lain pada tahun 1950an di kalangan kaum kiri. Untuk bisa melihat cara pandangnya Sukarno, bisa kita baca pernyataannya dalam kursus Presiden Sukarno tentang sila “Peri-kemanusian” Pancasila di Istana Negara, 22 Juli, 1958:
"Baik Trotsky maupun Stalin menghendaki satu masyarakat adil dan makmur ala Rusia. …Mereka pun mempunyai cita-cita atau masyarakat adil dan makmur, katakan komunisme. Dua-duanya menghendaki komunisme, dua-duanya menghendaki menghilangkan stelsel kapitalisme, dua-duanya menghendaki manusia tidak dihisap oleh manusia lain, dua-duanya mau (me)niadakan exploitation de’l’homme, dua-duanya ingin mengadakan masyarakat sama-rata, sama rasa, tanpa kapitalisme. Tapi toh ada perdebatan, bentrokan kemudian yang hebat sekali."

Di sini kita lihat Trotsky bukan sebagai pengkhianat atau agen CIA tetapi seorang yang berbeda pendapat tentang bagaimana mencapai masyarakat adil makmur, sama rata sama rasa. Sukarno juga memberikan penilaiannya tentang kedua poin perbedaan Trotsky dengan Stalin itu. Menurut Trotsky, kata Sukarno, Rusland “tidak dapat mendirikan satu masyarakat sosialis atau komunis di Rusland saja, jika kita pula menumbangkan kapitalisme di lain-lain negeri.” Buat Trotsky, menurut Sukarno, revolusi harus diperluas ke negeri-negeri lain. Dan ini  juga sekaligus merupakan proses meneruskan revolusi anti-kapitalis ke segala alam. “Tidak cukup perjuangan sekadar pada satu saat merebut politieke macht (kekuasan politik), tampuk pimpinan pemerintah direbut oleh kaum proletariat. Tidak cukup,” kata Sukarno. Dia pun kemudian mengatakan:
"…Trotsky berkata: “Kita punya revolusi haruslah satu revolusi permanen, revolusi terus-menerus dan memusatkan perhatian pada revolusi terus-menerus itu. Jangan sebentar pun mengadakan adem pause, angan sebentar pun mengadakan pemusatan pikiran kita pada apa yang dinamakan pembangunan di segala negeri. Revolusi sosialis adalah revolusi permanen, kalau sosialisme hendak tercapai."

"Trotsky berkata: “Tidak bisa mendirikan sosialisme di satu negeri sebelum kapitalisme di seluruh dunia gugur. Sosialisme hanya bisa berdiri di semua negeri bersama."
Sukarno juga membuat perbandingan dengan Stalin yang ingin membangun “sosialisme di satu negeri”. Dia jelaskan bahwa kubu Trotsky pada akhirnya kalah:
"Maka Sovet Uni memasuki periode yang dikenal oleh dunia luar: periode penutupan, periode isolasi, periode memperkuat benteng di dalam lingkungan pagar besi itu. Periode pemerkuatan benteng ini melalui fase-fase pembersihan, fase-fase penangkapan, fase-fase kalau perlu …  pembunuhan."

Saya kira Sukarno benar ketika menceritakan perbedaan antara Stalin dan Trotsky dalam soal internasionalisme. Adalah Stalin juga yang tanpa berunding dengan siapa pun membubarkan Communist International (Comintern) pada tahun 1943. Stalin berpegang pada ide bahwa sosialisme bisa dibangun dalam sebuah negeri sendirian tanpa revolusi sosialis meluas ke negeri lain. Dalam perbandingannya perihal “revolusi permanen”, Sukarno menangkap salah satu aspek jiwa perbedaan Stalin dan Trotsky, meskipun keliru menjelaskan apa yang dimaksud oleh Trotsky dengan konsepnya “revolusi permanen”.

Adalah jelas sekali bahwa kegiatan untuk memperluas revolusi ke negeri lain maupun ke berbagai aspek negeri Uni Soviet sendiri berlawanan dengan politik “melalui fase-fase pembersihan, fase-fase penangkapan, fase-fase kalau perlu…pembunuhan.” Trotsky adalah lawan daripada praktek-praktek kediktatoran birokrasi Stalin. Tetapi konsep “revolusi permanen” sebenarnya tidak tertuju ke sana. Di kalangan kaum sosialis pada tahun-tahun 1910-1925 ada tiga sikap terhadap fase-fase yang harus dialami revolusi. Adalah kaum Menshevik (yang zaman sekarang akan disebut social democrat) yang bersikap bahwa sosialisme hanya mungkin kalau kapitalisme itu sendiri sudah berkembang sematang-matangnya dan adalah tugas kelas borjuis untuk memimpin negeri sampai tercapailah kematangan tersebut. Kelas proletar dan partai-partainya harus tunggu saja dan bertindak sebagai opposisi dulu. 
Trotsky, dengan konsep “revolusi permanennya” berpendapat bahwa kelas proletar bukan hanya harus merebut kekuasaan politik negara tetapi akan harus juga langsung mengambil alih semua alat produksi (termasuk tanah) dan menyosialiskannya di bawah pemerintah yang dikuasainya. Aliran ketiga yang disuarakan oleh Lenin ialah bahwa matang atau tidak matang kapitalisme Rusia, kalau kelas proletar bisa merebut kekuasaan politik harus direbut. Apakah semua alat produksi, apalagi tanah yang diinginkan kaum petani miskin, memang langsung dinasionalisasikan, harus tunggu melihat kemampuan kekuatan revolusioner sebelum masuk fase itu.

Informasi tentang tiga aliran ini memang belum jelas beredar secara internasional tahun 1950an dan bahkan masih diperdebatkan sampai sekarang. Keliru atau tidak keliru, analisanya Sukarno secara keseluruhan, sudah jelas bahwa Suakrno mau menekankan bahwa mobilisasi massa secara revolusioner –keterlibatannya di kehidupan politik negeri secara menentukan– harus terus menerus. Seharusnya tidak boleh dibekukan lewat birokrasi dengan “pembersihan, penangkapan, pembunuhan.” (Tetapi pada tahun 1960an terjadi juga kontradiksi antara konsep politik Sukarno di bidang politik mobilisasi massa dan akibat penolakan dia terhadap demokrasi parlementer yang sangat memperlemah kekuatan gerakannya sebagai gerakan yang demokratis.)
Setelah melakukan perbandingan dua jalan revolusi itu bagaimana Sukarno menarik pelajaran bagi negeri Indonesia sendiri? Dalam pidato yang sama Sukarno mengatakan:
Kita bagaimana saudara-saudara? Sebagai tadi pada permulaan saya katakan, kita tidak dapat menyelenggarakan satu masyaralat adil dan makmur di dalam negeri kita ini jika kita menjalankan politik isolasionisme pula. Kita harus mencari hubungan dengan bangsa-bangsa lain atas dasar persamaan, atas dasar daulat sama daulat, atas dasar mutual benefit, menguntungkan dan diuntungkan.... bahwa kita menghadapi pula imperialisme internasional, tak dapat kita melepaskan diri kita dari bekerja sama dengan bangsa-bangsa yang juga menentang imperialisme itu.

Dari sini sikap Sukarno jelas juga tidak setuju konsep negeri dibangun di belakang sebuah tirai besi sebagaimana yang dilakukan Stalin. Sukarno bukan seorang yang bersikap “anti-asing”, tetapi –kalau boleh pinjam sebuah frase Pramoedya Ananta Toer dalam konteks lain– dia adalah seorang “anak semua bangsa”, yang banyak mengelaborasi ide-ide dari banyak sumber dari seluruh dunia

Historia Vitae Magistra


Monday, May 13, 2019

Wednesday, April 10, 2019

Membangun Kembali Peradaban Yang Hilang

Oleh : Hendra Himawan, S.Pd.







https://youtu.be/ZWTcKXwDbdo




Siapa yang tidak senang dan tidak bangga, jika produk atau hasil karya anda di gunakan selalu oleh orang terkenal dan vokalis band ternama Seperti Paang Wali band?. Terkejut di balik ga percaya tentunya.

Rudhraksa sebutan janitri di India kini tidak hanya digunakan sebagai media spiritual, tapi juga sebagai media terapi tradisional juga aksesoris dari kalangan anak muda, orang tua, artis hingga pejabat.

Janitri telah sangat lama berada di Nusantara ini. Terbukti semua kalung dan gelang di candi Prambanan bermotif biji Janitri. Dapat kita simpulkan bahwa Janitri adalah budaya yang hilang dari peradaban. Sebab sangat sedikit masyarakat Indonesia yang mengerti apa itu janitri dan apa manfaat dari Janitri?

Di Lampung, khususnya Lampung Barat adalah Kabupaten yang memiliki Populasi pohon janitri terbanyak, bahkan mungkin terbanyak di Sumatra. Ada sekitar 10 ribu pohon Janitri tumbuh di Lampung Barat. Banyak yang sengaja ditanam penduduk, banyak juga yang tumbuh sendiri di hutan-hutan kawasan dan taman nasional. Seperti misalnya di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) juga terdapat populasi pohon janitri yang tersebar dibeberapa tempat.

Sayangnya hasil dari buah maupun getah dari pohon Janitri belum dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, karna kurangnya pengetahuan mengenai janitri dan belum terbentuknya jalur pemasaran bahan baku maupun produk berbasis janitri.

Telah dilakukan upaya pengolahan bahan baku hingga menjadi produk terapi maupun aksesoris dan upaya-upaya promosi melalui event-event pameran sekala Nasional maupun daerah, seperti pada event Ina Craft, Pameran Pariwisata Nasional, Lampung Fair, Liwa Fair dll setiap tahunnya.

Peradaban adalah bentuk kebudayaan dimasa lalu. Kata peradaban umumnya di gunakan untuk menyebutkan kebudayaan dimasa lalu yang tinggal menjadi sejarah atau jejak peristiwanya saja.

Perjuangan membangun kembali Peradaban yang hilang, kembali memasyarakatkan janitri dan menjanitrikan masyarakat adalah perjalanan panjang yang akan terus ditempuh, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelesarian budaya Nasional. Dukungan dari semua pihak, baik pemerintah, swasta dan masyarakat sangat di harapkan untuk dapat mewujudkan cita-cita ini.

Semoga Janitri dapat kembali melekat di hati masyarakat, seperti pada masa Kerajaan Majapahit dan Mataram Kuno tempo dulu.




Sunday, January 13, 2019

Destinasi Wisata Lampung Barat

Pinusan

Out Bound Pinusan

Pinusan

Savana Suoh

Danau Ranau


Danau Ranau

Savana Suoh

Keramikan Suoh

Keramikan Suoh


Keramikan Suoh


Pinusan

Rest Area (Puncak) Lampung Barat

Nirwana Suoh

Kebun Raya Liwa(KRL)

Kebun Raya Liwa(KRL)

Kebun Raya Liwa(KRL)

Kebun Raya Liwa(KRL)

Nirwana Suoh

Kampung Kopi Rigis

Kampung Kopi Rigis

Kampung Kopi Rigis


Kampung Kopi Rigis

Kampung Kopi Rigis

Wednesday, May 30, 2018

APA DAN BAGAIMANA CAKRA PADA TUBUH MANUSIA ?

Pernahkah Anda Mendengar tentang Istilah Cakra...?.


Pada sistem kepercayaan dunia timur, cakra adalah senjatanya para dewa. Secara umum cakra dipahami sebagai titik pusat energi yang ada di dalam tubuh bioplasmik manusia. Plasmik atau plasma adalah istilah untuk menyebutkan zat atau esensi selain padat, cair dan gas. Cakra tidak terlihat dalam tubuh fisik. Kalau tubuh manusia dibedah, anda tidak akan menemukan bagian cakra. Mengapa ? Karena cakra letaknya ada pada tubuh bioplasmik.

Tubuh bioplasmik adalah bentukan yang menyerupai tubuh fisik manusia. Ada kepala, lengan, kaki, badan, dan sebagainya. Disebut bio karena hidup, dan plasmik berasal dari istilah plasma.. Wujud tubuh bioplasmik itulah yang muncul ke permukaan tubuh fisik manusia, dan kemudian disebut dengan aura.

Diyakini ada 365 titik cakra dalam tubuh manusia, tetapi jumlah titik cakra yang utama (mayor) hanya ada tujuh. Cakra Mayor ini mewakili cakra lain yang jumlahnya ratusan 365, tujuh titik cakra itu adalah :

- Cakra Mahkota
- Cakra Ajna
- Cakra Hidung
- Cakra Tenggorokan
- Cakra Jantung
- Cakra Solar Plexus
- Cakra Kundalini

Salah satu fungsi cakra adalah untuk menyerap energi hidup atau prana alam yang ada di jagad raya. Tanpa prana alam, semua makhluk hidup akan mati. Energi prana alam inilah yang membuat manusia, hewan, dan tumbuhan bisa hidup dan menikmati dunia.

TUJUH CHAKRA UTAMA

1. Chakra Mahkota (Sahasrara)
 
Warna : Violet
Posisi : di sisi bagian atas kepala, daerah otak dan system syaraf (ubun-ubun).
Elemen : pemikiran, daya ingat, fokus dll.
Tanda astro : Capricorn, Pisces
Kelenjar : Pineal (aktif selaras dengan pituitary)
Organ : Cerebral cortex, central nervous system
Fungsi : Integrasi dan Pemahaman
Disfungsi : Masalah konsentrasi, stress, insomnia dll.

Chakra ini adalah pusat masuknya energi Illahi ke seluruh lapisan tubuh & kesadaran. Seseorang yang chakra mahkotanya berkembang secara sempurna akan lebih mudah memahami sesuatu yang bersifat fisik maupun non fisik. Menjaga agar chakra ini selalu bersih amatlah penting agar energi spiritual dapat diterima secara terus menerus oleh seluruh tubuh. Apabila chakra mahkota yang terbuka dengan lebar maka seseorang dapat lebih mudah mencapai kedamaian dan kekhusuan yang mendalam. Lebih mudah mencapai frekuensi tertentu sehingga terhubung dengan macam-macam vibrasi yang ada di semesta .

2. Chakra Mata Ketiga (Ajna) 
Warna : Biru indigo (nila)
Posisi : di antara kedua mata (dahi/kening)
Elemen : cahaya
Tanda astro : Sagitarius, Aquarius, Pisces
Kelenjar : Pituary (aktif selaras dengan pineal)
Organ : mata
Fungsi : Penglihatan, intuisi, penyatuan
Disfungsi : sakit kepala, mimpi buruk, gangguan penglihatan dan halusinasi.

Chakra ini memberikan energi ke kedua mata, hidung & kelenjar pituitary. Disebut chakra mata ketiga karena chakra yang berkembang aktif & bersih dapat memberikan pewaskitaan (clairvoyance) atau kekuatan psikis lainnya. Selain pewaskitaan, chakra ini merupakan titik pemusatan & pengatur dari chakra-chakra di bawahnya. Chakra ini sering disebut pula berkaitan erat dengan pengetahuan duniawi & pengetahuan surgawi (spiritual). Pada anak indigo, cakra ajna ini dianggap sebagai cakra yang paling dominan berkembang.

3. Chakra Tenggorokan (Vishudda)

Warna : Biru muda
Posisi : tenggorokan
Elemen : Ether
Tanda astro : Gemini, Taurus, Aquarius
Kelenjar : Thyroid dan Parathyroid
Organ : leher, bahu, lengan, tangan, telinga
Fungsi : komunikasi, energi ekspresif, percaya diri, kompetensi sosial, kreatifitas dll.
Disfungsi : problem thyroid (gondok), masalah pendengaran, kurang percaya diri dll.

Chakra ini memiliki 16 lembar daun. Secara fisik chakra ini memberikan energi pada kelenjar thyroid & parathyroid. Seseorang dengan chakra tenggorokan yang berkembang akan memiliki pengertian yang mendalam mengenai hubungan antar sesama sehingga mempunyai hubungan yang baik dengan sesamanya. Kemampuan untuk berekspresi secara lisan juga dipengaruhi oleh chakra ini. Chakra jantung yang yang bersih & terhubung dengan chakra tenggorokan yang bersih pula akan mengakibatkan seseorang akan dapat mengekspresikan seluruh isi hati dengan baik. Sifat-sifat yang berkenaan dengan chakra tenggorokan yang berkembang dengan baik antara lain adalah kepasrahan, keberhasilan, kelimpahan & kesejahteraan serta pengembangan pengetahuan duniawi.


4. Chakra Jantung (Anahata)

Warna : Hijau
Posisi : tengah dada
Elemen : Udara
Tanda astro : Leo, Libra
Kelenjar : Thymus
Organ : jantung, paru-paru, dada
Fungsi : mencintai diri, mencintai orang lain, pemenuhan hajat hidup, emphati dll.
Disfungsi : gangguan jantung, asma, dan paru-paru

Chakra ini memiliki 12 lembar daun. Chakra jantung adalah chakra yang amat penting dalam spiritual karena dihubungkan sebagai lambang cinta kasih & kebijaksanaan. Secara fisik chakra jantung mengatur jantung & kelenjar thymus. Chakra jantung merupakan pusat dari seluruh perasaan halus seperti kasih sayang & cinta kasih. Seseorang dengan chakra jantung yang kecil, kotor atau terhambat akan memiliki kecenderungan egois, sombong, fanatik, tamak/rakus, munafik, & gelisah. Sedangkan chakra jantung yang berkembang dengan baik menyebabkan seseorang penuh dengan rasa cinta kasih & kasih sayang serta dapat berempati terhadap sesama.


5. Chakra Pusar/Pusat (Manipura)
Warna : Kuning
Posisi : perut (pusar/plexus solaris)
Elemen : Api
Tanda astro : Leo, Sagitarius, Gemini
Kelenjar : pancreas, adrenals
Organ : perut, hati, kantong empedu
Fungsi : pertumbuhan, penyembuhan, menerima dan mengeluarkan energi, tenaga bagi kemauan, tenaga personal
Disfungsi : gangguan pencernaan, kencing manis, hypoglycemia, kecemasan; ketakutan dll.

Chakra ini amat penting dalam mempertahankan vitalitas seseorang. Chakra ini memiliki 10 lembar daun. Chakra pusar berkaitan erat dengan sifat-sifat yang membawa kecenderungan seperti iri hati, rasa malu, tidak puas, murung, benci & takut (kekurangan rasa aman). Seseorang dengan chakra pusar yang berkembang & bersih maka akan dapat mengatasi hal-hal seperti tersebut di atas & mengubahnya menjadi suatu yang positif seperti rasa aman, puas, gembira, nyaman & percaya diri.

6. Chakra Seks (Svadhisthana)
Warna : Jingga
Posisi : di bawah perut, abdomen (pada tulang pelvis)
Elemen : Air
Tanda astro : Cancer, Sagitarius, Scorpio
Kelenjar : ovarium, testicle
Organ : kandungan, alat kelamin, ginjal, kandung kemih, sistem sirkulasi
Fungsi : asimilasi, seksual, kesenangan, keinginan, gaya hidup yang memanjakan emosi
Disfungsi : gangguan kandung kemih dan ginjal, gangguan alat kelamin dan problem seksual, gangguan pinggang

Chakra sex memiliki 6 lembar daun. Chakra seks berhubungan dengan penciptaan atau reproduksi & mempengaruhi aktivitas seksual seseorang. Seseorang dengan Chakra seks yang bersih dan aktif akan memiliki semangat dan kemauan yang positif. Sebaliknya seseorang akan menjadi pemalas, putus asa, kasar dan mudah putus asa ketika cakra ini terhambat atau bermasalah.

7. Chakra Dasar (Maludara)
Warna : Merah
Posisi : di antara alat kelamin dan anus (ujung tulang ekor)
Elemen : Tanah
Tanda astro : Aries, Taurus, Scorpio, Capricorn
Kelenjar : adrenals dan suprarenals
Organ : paha, kaki, tulang, usus besar
Fungsi : survival, aktivitas hidup yang mengutamakan energi fisik maupun non fisik.
Disfungsi : konstipasi, wasir, penyakit pegal pada pinggang radang sendi, gangguan lutut, anorexia nervosa

Chakra dasar mempunyai 4 lembar daun yang merupakan pusat energi dari tubuh fisik, kehidupan materi & keinginan untuk hidup. Chakra dasar yang aktif maka seseorang akan cenderung untuk hidup dengan dipenuhi energi positif yang mempengaruhi diri maupun lingkungan. sebaliknya chakra dasar yang kecil, kotor & terhambat maka akan cenderung mengasingkan diri dan mudah depresi.

Demikianlah sekelumit pengertian tentang cakra. Masih banyak pengertian yang lebih mendalam yang dapat di bahas dan di terapkan dalam upaya memberdayakan sistem cakra pada tubuh manusia. 
Anda dapat berkonsultasi dan tanya jawab tentang hal-hal yang lebih mendalam untuk berbagai hajat dan kepentingan melalui pemberdayaan cakra, melalui multi metode seperti olah nafas, meditasi, wirid, puasa, doa, mantra dll, melalui kolom komentar di bawah artikel ini. 

Semoga menjadi manusia yang bermanfaat bagi diri sendiri, oarnag lain dan semesta.


Salam 'NuR Samadi' ✋✋✋

Thursday, January 25, 2018

Kunjungan dan Pembinaan Istri Bupati Lampung Barat di Rumah Kreatif Rahim Sanjaya Janitri di Kecamatan Way Tenong Kabupaten Lampung Barat


https://youtu.be/ZlEAqE9WSxoKunjungan Ibu Bupati Lampung Barat


Besarnya perhatian Pemerintah Kabupaten Lampung Barat Telah dibuktikan Oleh Bapak Bupati Parosil Mabsus beserta Ibu dalam mendorong kemajuan Home Industri dan Industri Kreatif di Lampung Barat dengan terus memberikan dukungan, arahan, event, pelatihan, promosi dll.