Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Tuesday, June 9, 2020

SUKARNO DAN REVOLUSI

 
Sukarno di Simpang Jalan Revolusi
Apakah Sukarno menjadi seorang Trotskyis ketika mesti memilih pada jalan mana revolusi harus ditempuh?
OLEH: MAX LANE
Re Post: Hendra Himawan, S.Pd.

Pada 1958 Presiden Sukarno pernah menyampaikan beberapa kuliah tentang Pancasila di Istana Negara. Antara lain ada kuliah tentang masing-masing sila, termasuk peri-kemanusiaan. Di dalam kuliah tersebut Sukarno sempat menguraikan perbandingannya antara Joseph Stalin dan Leon Trotsky, dua pemimpin revolusi Rusia. Dalam membaca dan merenungkan komentar Sukarno ini tentu saja kita harus catat waktu dan konteks yang berlaku pada saat itu. Pidato Sukarno pada 1958 itu dilakukan dua tahun setelah Nikita Kruschev, sebagai Sekretaris Pertama Partai Komunis Uni Soviet, membongkar kejahatan-kejahatan politik Stalin melalui pidato di kongres partainya. Pada waktu itu Kruschev mengatakan:
"We have to consider seriously and analyze correctly [the crimes of the Stalin era] in order that we may preclude any possibility of a repetition in any form whatever of what took place during the life of Stalin, who absolutely did not tolerate collegiality in leadership and in work, and who practiced brutal violence, not only toward everything which opposed him, but also toward that which seemed to his capricious and despotic character, contrary to his concepts."

Sejak pidatonya itu, sedikit demi sedikit mulai banyak data keluar tentang, meminjam istilah Sukarno: “pembersihan”, “penangkapan” dan “pembunuhan” yang terjadi pada zaman Stalin berkuasa. Fakta-fakta itu sebenarnya sudah mulai beredar dan diketahui oleh Sukarno pada tahun 1958. Kalau kita lihat komentar Sukarno, pengetahuan dan sikapnya terhadap hal yang pernah diungkapkan oleh Kruschev itu memang tidak terlalu mengejutkan.

Apalagi di saat yang sama, secara tertutup, mulai ada perbedaan retorika politik antara Beijing dan Moskow. Perpecahan itu baru muncul terbuka sepenuhnya tahun 1961. Tetapi gejalanya sudah mulai kelihatan pada tahun 1958 bahwa Beijing kurang jodoh dengan kritikan tajam yang dilontarkan Kruschev kepada Stalin. Bahkan pada  1956, Mao Tse Tung sudah menulis: “We’ve said before that with regard to Stalin, we should [see him as having been] three parts [bad] and seven parts [good].” Ini merupakan sikap yang jauh lebih lunak daripada yang dianut dan yang diungkapkan oleh Kruschev.

Sikap Sukarno dalam hal kejahatan yang dilakukan Stalin lebih cenderung membenarkan apa yang dikemukakan oleh Kruschev. Dalam hal ini, meski sikapnya jelas berbeda dari sikap Mao dan Beijing, sikap Soekarno tidak akan mengejutkan untuk mayoritas dunia kiri pada waktu itu.
Lain soal kalau kita membahas Trotsky. Pada tahun 1958, Trotsky masih sasaran kutukan dari mayoritas kaum kiri, baik yang berkiblat ke Moskow maupun Beijing. Trotsky, di mata organisasi-organisasi komunis adalah seorang pengkhianat atau bahkan agen CIA. Trotsky adalah figur yang digadang-gadang Lenin untuk menggantikannya, tetapi kalah bertarung melawan Stalin. Kemudian dia muncul sebagai pemimpin “Left Opposition” di Partai Komunis Uni Soviet. Sesudah beberapa tahun bertarung, Trotsky diasingkan ke Turki tahun 1929. Pada tahun 1935 dia pindah ke Norwegia, kemudian Meksiko. Pada tahun 1938 anaknya dibunuh oleh agen Stalin di Paris dan kemudian pada 1940 dia sendiri dibunuh oleh pelaku yang sama.

Kalau kita membaca uraian Sukarno adalah jelas bahwa dia sama sekali tidak terima pengutukan terhadap Trotsky, sesuatu yang lain daripada yang lain pada tahun 1950an di kalangan kaum kiri. Untuk bisa melihat cara pandangnya Sukarno, bisa kita baca pernyataannya dalam kursus Presiden Sukarno tentang sila “Peri-kemanusian” Pancasila di Istana Negara, 22 Juli, 1958:
"Baik Trotsky maupun Stalin menghendaki satu masyarakat adil dan makmur ala Rusia. …Mereka pun mempunyai cita-cita atau masyarakat adil dan makmur, katakan komunisme. Dua-duanya menghendaki komunisme, dua-duanya menghendaki menghilangkan stelsel kapitalisme, dua-duanya menghendaki manusia tidak dihisap oleh manusia lain, dua-duanya mau (me)niadakan exploitation de’l’homme, dua-duanya ingin mengadakan masyarakat sama-rata, sama rasa, tanpa kapitalisme. Tapi toh ada perdebatan, bentrokan kemudian yang hebat sekali."

Di sini kita lihat Trotsky bukan sebagai pengkhianat atau agen CIA tetapi seorang yang berbeda pendapat tentang bagaimana mencapai masyarakat adil makmur, sama rata sama rasa. Sukarno juga memberikan penilaiannya tentang kedua poin perbedaan Trotsky dengan Stalin itu. Menurut Trotsky, kata Sukarno, Rusland “tidak dapat mendirikan satu masyarakat sosialis atau komunis di Rusland saja, jika kita pula menumbangkan kapitalisme di lain-lain negeri.” Buat Trotsky, menurut Sukarno, revolusi harus diperluas ke negeri-negeri lain. Dan ini  juga sekaligus merupakan proses meneruskan revolusi anti-kapitalis ke segala alam. “Tidak cukup perjuangan sekadar pada satu saat merebut politieke macht (kekuasan politik), tampuk pimpinan pemerintah direbut oleh kaum proletariat. Tidak cukup,” kata Sukarno. Dia pun kemudian mengatakan:
"…Trotsky berkata: “Kita punya revolusi haruslah satu revolusi permanen, revolusi terus-menerus dan memusatkan perhatian pada revolusi terus-menerus itu. Jangan sebentar pun mengadakan adem pause, angan sebentar pun mengadakan pemusatan pikiran kita pada apa yang dinamakan pembangunan di segala negeri. Revolusi sosialis adalah revolusi permanen, kalau sosialisme hendak tercapai."

"Trotsky berkata: “Tidak bisa mendirikan sosialisme di satu negeri sebelum kapitalisme di seluruh dunia gugur. Sosialisme hanya bisa berdiri di semua negeri bersama."
Sukarno juga membuat perbandingan dengan Stalin yang ingin membangun “sosialisme di satu negeri”. Dia jelaskan bahwa kubu Trotsky pada akhirnya kalah:
"Maka Sovet Uni memasuki periode yang dikenal oleh dunia luar: periode penutupan, periode isolasi, periode memperkuat benteng di dalam lingkungan pagar besi itu. Periode pemerkuatan benteng ini melalui fase-fase pembersihan, fase-fase penangkapan, fase-fase kalau perlu …  pembunuhan."

Saya kira Sukarno benar ketika menceritakan perbedaan antara Stalin dan Trotsky dalam soal internasionalisme. Adalah Stalin juga yang tanpa berunding dengan siapa pun membubarkan Communist International (Comintern) pada tahun 1943. Stalin berpegang pada ide bahwa sosialisme bisa dibangun dalam sebuah negeri sendirian tanpa revolusi sosialis meluas ke negeri lain. Dalam perbandingannya perihal “revolusi permanen”, Sukarno menangkap salah satu aspek jiwa perbedaan Stalin dan Trotsky, meskipun keliru menjelaskan apa yang dimaksud oleh Trotsky dengan konsepnya “revolusi permanen”.

Adalah jelas sekali bahwa kegiatan untuk memperluas revolusi ke negeri lain maupun ke berbagai aspek negeri Uni Soviet sendiri berlawanan dengan politik “melalui fase-fase pembersihan, fase-fase penangkapan, fase-fase kalau perlu…pembunuhan.” Trotsky adalah lawan daripada praktek-praktek kediktatoran birokrasi Stalin. Tetapi konsep “revolusi permanen” sebenarnya tidak tertuju ke sana. Di kalangan kaum sosialis pada tahun-tahun 1910-1925 ada tiga sikap terhadap fase-fase yang harus dialami revolusi. Adalah kaum Menshevik (yang zaman sekarang akan disebut social democrat) yang bersikap bahwa sosialisme hanya mungkin kalau kapitalisme itu sendiri sudah berkembang sematang-matangnya dan adalah tugas kelas borjuis untuk memimpin negeri sampai tercapailah kematangan tersebut. Kelas proletar dan partai-partainya harus tunggu saja dan bertindak sebagai opposisi dulu. 
Trotsky, dengan konsep “revolusi permanennya” berpendapat bahwa kelas proletar bukan hanya harus merebut kekuasaan politik negara tetapi akan harus juga langsung mengambil alih semua alat produksi (termasuk tanah) dan menyosialiskannya di bawah pemerintah yang dikuasainya. Aliran ketiga yang disuarakan oleh Lenin ialah bahwa matang atau tidak matang kapitalisme Rusia, kalau kelas proletar bisa merebut kekuasaan politik harus direbut. Apakah semua alat produksi, apalagi tanah yang diinginkan kaum petani miskin, memang langsung dinasionalisasikan, harus tunggu melihat kemampuan kekuatan revolusioner sebelum masuk fase itu.

Informasi tentang tiga aliran ini memang belum jelas beredar secara internasional tahun 1950an dan bahkan masih diperdebatkan sampai sekarang. Keliru atau tidak keliru, analisanya Sukarno secara keseluruhan, sudah jelas bahwa Suakrno mau menekankan bahwa mobilisasi massa secara revolusioner –keterlibatannya di kehidupan politik negeri secara menentukan– harus terus menerus. Seharusnya tidak boleh dibekukan lewat birokrasi dengan “pembersihan, penangkapan, pembunuhan.” (Tetapi pada tahun 1960an terjadi juga kontradiksi antara konsep politik Sukarno di bidang politik mobilisasi massa dan akibat penolakan dia terhadap demokrasi parlementer yang sangat memperlemah kekuatan gerakannya sebagai gerakan yang demokratis.)
Setelah melakukan perbandingan dua jalan revolusi itu bagaimana Sukarno menarik pelajaran bagi negeri Indonesia sendiri? Dalam pidato yang sama Sukarno mengatakan:
Kita bagaimana saudara-saudara? Sebagai tadi pada permulaan saya katakan, kita tidak dapat menyelenggarakan satu masyaralat adil dan makmur di dalam negeri kita ini jika kita menjalankan politik isolasionisme pula. Kita harus mencari hubungan dengan bangsa-bangsa lain atas dasar persamaan, atas dasar daulat sama daulat, atas dasar mutual benefit, menguntungkan dan diuntungkan.... bahwa kita menghadapi pula imperialisme internasional, tak dapat kita melepaskan diri kita dari bekerja sama dengan bangsa-bangsa yang juga menentang imperialisme itu.

Dari sini sikap Sukarno jelas juga tidak setuju konsep negeri dibangun di belakang sebuah tirai besi sebagaimana yang dilakukan Stalin. Sukarno bukan seorang yang bersikap “anti-asing”, tetapi –kalau boleh pinjam sebuah frase Pramoedya Ananta Toer dalam konteks lain– dia adalah seorang “anak semua bangsa”, yang banyak mengelaborasi ide-ide dari banyak sumber dari seluruh dunia

Historia Vitae Magistra


Monday, May 13, 2019

Wednesday, July 25, 2012

TUHAN ITU ADIL

Diambil dari kisah nyata. Kesamaan nama dan tempat kejadian adalah kebetulan belaka. Kisah ini disarikan agar dapat diambil hikmahnya. Ambil yang baik, buang yang buruk... Selamat menikmati...!


Seperti malam-malam biasanya, Andi sering ngerasa bete di rumah. Andi adalah seorang anak kost sudah menjalani kuliah 10 semester di sebuah perguruan tinggi negeri di Lampung, tak kunjung lulus. Setelah seharian enjalani aktifitas sambilan, bisnis kecil-kecilan, bersama 3 orang temannya. Diantara ketiga orang temannya, Andilah yang punya kebiasaan nyleneh, mabuk-mabukan. Setiap malam menjelang Andi segera temui teman-teman yang punya kebisaan mabuk.

"Temen-temen sum-suman(iuran) yuk..." Ajak Andi pada temannya agar bisa mabuk bareng. Ya, dengan isi kantong yang pas-pasan untuk bisa kumpul dengan teman-teman pemabuk, mereka berencana membeli beberapa liter tuak(minuman tradisional khas medan). Teman-teman yang lain pun segera mengabulkan ajakan Andi dengan mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan dan menyerahkan kepada Andi. "Gue yang beli ya...?" Andi menawarkan diri."Boleh..." Jawab Salim dan teman-teman yang lain. Andi pun bergegas meraih sepeda kumbang miliknya untuk mendatangi lapo tuak yang letaknya tidak jauh dari tempat nongkrong mereka.

Setelah tiba di lapo tuak Andi sgera memesan tuak pada panjaga lapo."Bu, tuaknya 2 liter". "Waduh nak, sudah habis tuaknya" jawab penjaga tuak. Dengan sedikit rasa kecewa, Andipun segera balik kanan dan kembali menggoes sepeda kumbangnya. Masih ada 1 lapo tuak lagi yang jaraknya sekitar 3 km dari lapo tuak yang pertama. Dengan penuh semangat, di antara cahaya lampu jalan yang tidak terlalu terang, terkadang harus melewati jalan-jalan yang tanpa lampu jalan, Andipun menggoes sepedanya dengan penuh semangat. Berbasuh keringat, karena harus melewati jalan yang penuh tanjakan dan turunan. Ketika melewati sebuah tanjakan yang cukup panjang, begitu banyak energi yang harus dikeluarkan untuk bisa melewati tanjakan tersebut. Dengan nafas yang sedikit terengah-engah Andi berhasil melewati tanjakan dan merasakan lega setelah melewati turunan. Tanpa menggoespun, sepeda tetap melaju dengan cepat dan merasakan kesejukan angin malam yang sepoi-sepoi. Disaat itu terbesit dibenak Andi tentang satu bukti bahwa Tuhan itu adil; setiap Tuhan menciptakan tanjakan, Tuhan juga menciptakan turunan. Jika di analogikan ke dalam kehidupan, setiap Tuhan memberikan kesulitan, selama kesulitan itu mampu kita lewati, segera Tuhan memberikan lebih banyak kemudahan.

Beberapa tanjakan mampu Andi lewati dengan tetep memacu sepedanya. Akhirnya Andi tiba di lapo tuak yang Kedua."Bu masih ada tuaknya?". Dengan penuh cemas Andi bertanya kepada penjaga lapo. "masih dek, mau berapa liter?". "Dua liter aja bu...". "Dijadikan 1 bungkus apa 2 bungkus?" Tanya penjaga lapo. "Dua bungkus bu...". Segera sang penjaga lapo menakar dengan literan khusus kemudian memasukkan tuak kedalam 2 bungkus plastik, setelah diikat dengan karet gelang, dimasukkannya 2 bungkus plastik tuak tersebut ke dalam plastik asoy. Dengan hati riang Andi kembali memacu sepedanya dan ingin cepat sampai di tempat teman-temannya yang sedang menunggu.

Melalui jalan yang sama seperti waktu berangkat, saking semangatnya, Andi jadi kurang waspada. Sampai tiba pada suatu jalan yang cukup gelap pun masih saja kurang waspada. Braaak...... Tanpa ada antisipasi yang berarti roda depan sepedanya terperosok pada sebuah lubang di tengah jalan yang kondisinya rusak. Pyaaarrr...... Bunyi bungkusan tuak yang terjatuh yang disusul lindasan roda belakangnya melindas bungkusan tuak. Begitu terkejut dan kesalnya Andi. Dalam benaknya hanya terbayang bahwa apa yang tuju, telah jauh ia tempuh harus sia-sia karena sebuah kesalahan. Dengan tarikan rem sekenanya, sepedanya pun berhenti. Andi bergegas turun. didekatinya bungkusan yang dari tempatnya berdiri terlihat porak-poranda, nampak bayangan air yang tergenang di sekitar bungkusan. Dengan penuh perasaan dia mendekati bungkusannya. Tapi apa yang dia sangka tidak 100% terjadi. Ternyanya hanya 1 bungkus tuak yang berisi 1 liter yang bungkusnya pecah. yang 1 lagi masih utuh. Bahagia bercampur sesal benar-benar ia rasakan. Di ambilnya 1 bungkusan yang utuh dan dibawanya dengan penuh hati-hati. Kali ini 1 keadilan Tuhan terlintas dibenak Andi kembali akan 1 analoginya tentang kejadian Tuhan. Ketika Tuhan memberikan suatu musibah, masalah, bencana, penderitaan, dsb. tidak sertamerta Tuhan mengambil seluruhnya dari kita. Tuhan masih menyisakan harapan lain untuk kita. Tuhan masih menjanjikan kegembiraan untuk kita. Berbahagialah dengan apapun yang telah Tuhan berikan pada kita. Tuhan tidak senang dengan orang yang putus asa. Sekecil apapun asa itu jika kita selalu bersyukur, maka Tuhan akan senantiasa menambah nikmat dan kadarnya.

Kini Andi kembali waspada dan sampai di temat dimana teman-temannya berkumpul. Andipun menceritakan apa yang telah ia alami selama perjalanan membeli tuak. Mereka tertawa terbahak-bahak, karena apa yang dialami Andi merupakan kejadian yang lucu. Kini Andi telah berhenti dari kebiasaan-kebiasaan buruknya. Dia merasa bahwa apa yang dilakukannya bersama teman-temannya selama ini akan terus menjauhkannya dari Tuhan, kalau tidak segera mengambil tindakan untuk tobat.

Monday, July 16, 2012

APAKAH INDIGO ITU...?

Nama Orang Indigo mengacu kepada warna jiwa yang indigo, yang menunjukkah adanya Jiwa Utama yang bertindak sebagai seorang guru atau penyembuh. Setiap Orang Indigo akan melakukan misi pengajaran atau menyembuhkan dengan berbagai cara, sering kali dengan caranya sendiri.
Orang-orang Indigo telah datang di planet ini sejak lama. Sebagian orang percaya bahwa para Rasul, Nabi, dan orang suci serta para wali adalah Indigo, karena misi mereka dalam skala global adalah mengajar dan menyembuhkan dan untuk menggeser kesadaran umat manusia. Di masa yang telah lewat, orang-orang Indigo hadir di planet ini terlihat meningkat jumlahnya setelah Perang Dunia II, dalam rangka mempersiapkan pergeseran global yang sudah kita alami sekarang. Mereka hadir di antara generasi baby boomers disekitar tahun 50-an dan dilahirkan dalam generasi flower children di tahun 60-an. Namun didua generasi ini jumlahnya tidak terlalu signifikan untuk menciptakan perubahan penting sampai sekitar tahun 70-an generasi pertama dari anak-anak Indigo dilahirkan. Mereka sekarang berusia antara 20 tahunan dan 30 tahunan dan ini adalah yang generasi laskar yang sesungguhnya yang sudah memulai proses yang menentang dan menggeser sistem yang sudah usang. Merekalah pemimpin Laskar Pelangi yang sesungguhnya, yaitu barisan orang-orang spiritual dengan berbagai warna jiwa yang siap mengadakan perubahan mendasar di dunia.
Mereka diikuti oleh Indigo yang lahir di tahun 80-an dan 90-an yang lebih meningkat kepekaan dan perbaikan, sampai akhir 90-an dan awal 2000-an dimana lahir anak-anak Kristal. Anak Kristal adalah jenis laskar rohani yang berbeda, lebih tenang dan tercerahkan, dengan kesadaran Tuhan berada di dalam mereka.
Istilah Indigo lebih kepada status jiwa dan bukan sekedar warna aura yang pada manusia yang bisa berubah dari hari ke hari tergantung pada suasana hati dan minat. Pada umumnya, anak-anak Indigo terlihat seperti anak-anak lain, meski mereka sering kali secara fisik terlihat lebih indah dengan pandangan mata lebih tajam. Mereka selalu sangat cerdas dan penuh dengan pertanyaan dan permintaan. Mereka aktif, enerjik dan mempunyai kemauan dan perasaan yang kuat akan nilai-nilai dan kepentingan mereka. Mereka mengetahui bahwa mereka spesial dan kehadiran mereka di bumi adalah untuk melakukan sesuatu yang mulia. Mereka berorientasi pada otak bagian kanan dan secara umum tertarik kepada kegiatan-kegiatan yang menggunakan otak bagian kanan seperti musik, seni, menulis dan keagamaan dan kerohanian. Mereka mencintai meditasi, tafakur dan perenungan. Namun karakteristik kunci dari orang-orang Indigo adalah sering merasakan kemarahan.
Mereka tidak bisa diperintah oleh figur yang berkuasa, karena orang Indigo tidak mengenal otoritas manusia. Mereka mengetahui bahwa kita semua sama, sehingga mereka akan marah terhadap orang yang menggunakan otoritas dan bertindak seperti diktator, seperti orang tua, guru atau bos di tempat kerja. Mereka berjuang dengan otorisasi penuh dari Sang Sumber, yang mana hal itu juga meliputi jiwa Indigo muda yang dengan sedikit pemahaman tentang kekuatan atas yang lain, seperti misalnya dominasi dan hegemoni oleh pihak yang kuat terhadap yang lemah di muka bumi.
Super Indigo calon pemimpin dunia
Maksud dari keberadaan Laskar Pelangi ini yang jumlahnya meningkat dengan pesat menjelang abad 21 hingga sekarang adalah dalam rangka mempersiapkan kepemimpinan dunia yang dinantikan banyak orang. Ratu Adil, Satria Piningit adalah istilah-istilah yang sering didengung-dengungkan oleh sebagian orang yang mengharapkan kedatangan seseorang yang mampu menyelamatkan kehidupan manusia di dunia. Seorang yang sempurna dan mempunyai kemampuan yang mumpuni untuk memperbaiki dan mengangkat kehidupan manusia dalam rangka mencapai kesejahteraan materi dan jiwa.
Apa yang mereka mimpikan itu bukanlah khayalan dan imajinasi belaka. Karena dia yang dinantikan adalah seorang Super Indigo, pemimpin dari semua indigo yang kemunculannya akan segera terjadi (sekitar 66 tahun dari sekarang atau lebih cepat lagi). Dia adalah khalifah, pemimpin manusia yang dinantikan banyak orang. Dia tidak hanya dinantikan oleh umat agama tertentu, tapi oleh seluruh umat manusia dan alam semesta yang merindukan kedamaian dan kesejahteraan sesungguhnya. Bukan berada dalam penindasan oleh kekuatan bangsa atau negara tertentu, bukan pula hidup dalam dominasi kejahatan besar di dunia. Dia akan meniti kekuasaan sejak kelahirannya dengan dibantu oleh Laskar Pelangi-nya. Dan tepat di usia 40 tahun tampuk kekuasaan akan direbutnya dari penguasa-penguasa lalim di dunia, dengan kemudahan yang diberikan Tuhan. Dia menerapkan aturan-aturan Tuhan dengan lemah-lembut dan kasih sayang. Karena dia adalah seorang Kristal yang tenang, lemah lembut dan penuh kasih sayang.
Titik awal 2012
Tahun 2012 adalah titik awal pertempuran yang sesungguhnya untuk Laskar Pelangi. Dengan kekuatan penuh, saling bahu-membahu dan saling mendukung, seluruh anggota Laskar Pelangi akan bergerak di seluruh dunia menghamparkan karpet hijau bagi Super Indigo.
Adakah penentangan yang terjadi?
Tentu saja pihak-pihak yang hegemoninya di dunia tersaingi akan menentang Sang Super Indigo. Mereka membentuk koalisi menghalangi perjalanannya menuju tampuk kekuasaan jagad ini. Segala cara mereka lakukan, termasuk memecah belah Laskar Pelangi dan mengarahkan orang-orang Indigo yang mereka kuasai untuk membantu niat jahat mereka.
Laskar Pelangi di pihak Super Indigo tidak akan tinggal diam. Komunikasi dan koneksitas dengan sahabat di dimensi lain yang telah dibina sejak dini akan digunakan untuk melindungi sang calon pemimpin. Kekuatan dikerahkan secara penuh, dan Tuhan berada di pihak sang khalifah akhir zaman.
Dunia supranatural terbagi menjadi dua, begitu juga dunia nyata. Sebagian mendukung perjuangan Super Indigo, sebagian lagi bersama dunia kegelapan dari dimensi lain menggelar perang besar-besaran. Perang Dunia Ketiga akan terjadi di dua dimensi yang berbeda.
Bagaimanakah nasib manusia umumnya?
Setelah peristiwa besar di bumi berupa bencana alam yang semakin berlipat ganda, jumlah manusia di bumi berkurang secara drastis. Proses eliminasi berlangsung secara simultan sejak beberapa dekade terakhir dan terus terjadi hingga jumlah manusia kurang dari setengahnya. Pemimpin-pemimpin jahat dan para kriminal serta manusia-manusia lemah adalah yang pertama tersingkirkan. Yang tersisa adalah manusia-manusia dengan kemampuan mental dan spiritual yang cukup untuk terhindarkan dari proses eliminasi alam. Termasuk kelompok pro dan kontra terhadap Super Indigo.
Sebagian besar manusia pada umumnya bingung meletakkan keberpihakannya. Cap teroris dan pengacau dunia distempelkan oleh pihak lawan kepada Super Indigo. Dunia nyata pada umumnya mengalami ketakutan kalau harus berpihak kepada Super Indigo.
Tapi tidak begitu halnya dengan sebagian besar orang-orang Indigo. Ketajaman mata batin mereka melihat dengan seterang-terangnya kebenaran yang dibawa Sang Super Indigo. Mereka adalah manusia-manusia spiritual yang sudah terhubung dengan Sang Sumber dan akan taat dan patuh dengan perintah yang langsung disampaikan oleh-Nya. Begitu juga dengan manusia-manusia yang tercerahkan, mereka akan berada di barisan Laskar Pelangi, membela dan berjuang untuk Super Indigo.
Koneksasi antar Indigo dengan makhluk dimensi lain, terus berlangsung sejak sekarang. Satu per satu orang Indigo terhubung, baik secara langsung maupun tidak. Sudah tampak pula persekutuan pihak kegelapan dengan orang-orang Indigo yang lemah. Mereka mengatasnamakan orang Indigo berpromosi kepada dunia dan akan menyeret Indigo-indigo yang mau diajak bersekutu serta manusia-manusia lain untuk menjadi pasukan mereka.
Tapi anggota Laskar Pelangi, orang-orang Indigo pendukung Super Indigo tidak akan gentar karena Sang Sumber selalu bersama orang-orang yang mengagungkan-Nya dan menyebarkan keselamatan. Dan pasti akan menghancurkan kelompok penentang Super Indigo yang terdiri dari orang-orang serakah yang gemar membuat kerusakan di muka bumi.
Dari:
http://www.wikimu.com/News/displaynews.aspx?id=13368
dengan sedikit perubahan