Wednesday, July 25, 2012

TUHAN ITU ADIL

Diambil dari kisah nyata. Kesamaan nama dan tempat kejadian adalah kebetulan belaka. Kisah ini disarikan agar dapat diambil hikmahnya. Ambil yang baik, buang yang buruk... Selamat menikmati...!


Seperti malam-malam biasanya, Andi sering ngerasa bete di rumah. Andi adalah seorang anak kost sudah menjalani kuliah 10 semester di sebuah perguruan tinggi negeri di Lampung, tak kunjung lulus. Setelah seharian enjalani aktifitas sambilan, bisnis kecil-kecilan, bersama 3 orang temannya. Diantara ketiga orang temannya, Andilah yang punya kebiasaan nyleneh, mabuk-mabukan. Setiap malam menjelang Andi segera temui teman-teman yang punya kebisaan mabuk.

"Temen-temen sum-suman(iuran) yuk..." Ajak Andi pada temannya agar bisa mabuk bareng. Ya, dengan isi kantong yang pas-pasan untuk bisa kumpul dengan teman-teman pemabuk, mereka berencana membeli beberapa liter tuak(minuman tradisional khas medan). Teman-teman yang lain pun segera mengabulkan ajakan Andi dengan mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan dan menyerahkan kepada Andi. "Gue yang beli ya...?" Andi menawarkan diri."Boleh..." Jawab Salim dan teman-teman yang lain. Andi pun bergegas meraih sepeda kumbang miliknya untuk mendatangi lapo tuak yang letaknya tidak jauh dari tempat nongkrong mereka.

Setelah tiba di lapo tuak Andi sgera memesan tuak pada panjaga lapo."Bu, tuaknya 2 liter". "Waduh nak, sudah habis tuaknya" jawab penjaga tuak. Dengan sedikit rasa kecewa, Andipun segera balik kanan dan kembali menggoes sepeda kumbangnya. Masih ada 1 lapo tuak lagi yang jaraknya sekitar 3 km dari lapo tuak yang pertama. Dengan penuh semangat, di antara cahaya lampu jalan yang tidak terlalu terang, terkadang harus melewati jalan-jalan yang tanpa lampu jalan, Andipun menggoes sepedanya dengan penuh semangat. Berbasuh keringat, karena harus melewati jalan yang penuh tanjakan dan turunan. Ketika melewati sebuah tanjakan yang cukup panjang, begitu banyak energi yang harus dikeluarkan untuk bisa melewati tanjakan tersebut. Dengan nafas yang sedikit terengah-engah Andi berhasil melewati tanjakan dan merasakan lega setelah melewati turunan. Tanpa menggoespun, sepeda tetap melaju dengan cepat dan merasakan kesejukan angin malam yang sepoi-sepoi. Disaat itu terbesit dibenak Andi tentang satu bukti bahwa Tuhan itu adil; setiap Tuhan menciptakan tanjakan, Tuhan juga menciptakan turunan. Jika di analogikan ke dalam kehidupan, setiap Tuhan memberikan kesulitan, selama kesulitan itu mampu kita lewati, segera Tuhan memberikan lebih banyak kemudahan.

Beberapa tanjakan mampu Andi lewati dengan tetep memacu sepedanya. Akhirnya Andi tiba di lapo tuak yang Kedua."Bu masih ada tuaknya?". Dengan penuh cemas Andi bertanya kepada penjaga lapo. "masih dek, mau berapa liter?". "Dua liter aja bu...". "Dijadikan 1 bungkus apa 2 bungkus?" Tanya penjaga lapo. "Dua bungkus bu...". Segera sang penjaga lapo menakar dengan literan khusus kemudian memasukkan tuak kedalam 2 bungkus plastik, setelah diikat dengan karet gelang, dimasukkannya 2 bungkus plastik tuak tersebut ke dalam plastik asoy. Dengan hati riang Andi kembali memacu sepedanya dan ingin cepat sampai di tempat teman-temannya yang sedang menunggu.

Melalui jalan yang sama seperti waktu berangkat, saking semangatnya, Andi jadi kurang waspada. Sampai tiba pada suatu jalan yang cukup gelap pun masih saja kurang waspada. Braaak...... Tanpa ada antisipasi yang berarti roda depan sepedanya terperosok pada sebuah lubang di tengah jalan yang kondisinya rusak. Pyaaarrr...... Bunyi bungkusan tuak yang terjatuh yang disusul lindasan roda belakangnya melindas bungkusan tuak. Begitu terkejut dan kesalnya Andi. Dalam benaknya hanya terbayang bahwa apa yang tuju, telah jauh ia tempuh harus sia-sia karena sebuah kesalahan. Dengan tarikan rem sekenanya, sepedanya pun berhenti. Andi bergegas turun. didekatinya bungkusan yang dari tempatnya berdiri terlihat porak-poranda, nampak bayangan air yang tergenang di sekitar bungkusan. Dengan penuh perasaan dia mendekati bungkusannya. Tapi apa yang dia sangka tidak 100% terjadi. Ternyanya hanya 1 bungkus tuak yang berisi 1 liter yang bungkusnya pecah. yang 1 lagi masih utuh. Bahagia bercampur sesal benar-benar ia rasakan. Di ambilnya 1 bungkusan yang utuh dan dibawanya dengan penuh hati-hati. Kali ini 1 keadilan Tuhan terlintas dibenak Andi kembali akan 1 analoginya tentang kejadian Tuhan. Ketika Tuhan memberikan suatu musibah, masalah, bencana, penderitaan, dsb. tidak sertamerta Tuhan mengambil seluruhnya dari kita. Tuhan masih menyisakan harapan lain untuk kita. Tuhan masih menjanjikan kegembiraan untuk kita. Berbahagialah dengan apapun yang telah Tuhan berikan pada kita. Tuhan tidak senang dengan orang yang putus asa. Sekecil apapun asa itu jika kita selalu bersyukur, maka Tuhan akan senantiasa menambah nikmat dan kadarnya.

Kini Andi kembali waspada dan sampai di temat dimana teman-temannya berkumpul. Andipun menceritakan apa yang telah ia alami selama perjalanan membeli tuak. Mereka tertawa terbahak-bahak, karena apa yang dialami Andi merupakan kejadian yang lucu. Kini Andi telah berhenti dari kebiasaan-kebiasaan buruknya. Dia merasa bahwa apa yang dilakukannya bersama teman-temannya selama ini akan terus menjauhkannya dari Tuhan, kalau tidak segera mengambil tindakan untuk tobat.

No comments:

Post a Comment